Jumat, 15 Maret 2013
Senin, 04 Maret 2013
MR.URc..
Tuhan tahu sejak kapan aku mencintaimu
sejak mimpi mulai menampakan bentuk dalam hidup
sejak doa yang kuamini mulai nyata kurasa kala senja kembali menemukan jingganya
yang kutahu setiap ku membayangkan masa depan disana ada kamu
ada bahagia yang nyata saat kita bersama, berbagi hidup yang tak sempurna
aku ingin kamu yang menjadi pemilik tulang rusukku
menemaniku sampai keriput hingga maut menjemput
melengkapi setiap ruas rusuk yang lama terpisah dari asalnya
hingga menjadikannya sempurna seutuhnya..
Jumat, 01 Maret 2013
Itu Rasaku..
Hai kamu, boleh saja sudah lama kita saling menyapa, saling berpapasan, saling berbicara, tapi pembicaraan kita kali ini rasanya sungguh berbeda
Sederhana saja yang ada dibenakku, yaitu aku mulai memperhatikanmu. Kapan itu dimulai? Aku tidak tahu. Sedetik yang lalu? Aku rasa itu sangat berlebihan. Dapat aku pastikan aku memperhatikanmu bukan nanti atau esok tapi mungkin kemarin lalu dan sudah pasti hari ini. Aku sendiri bingung dengan keinginan untuk memperhatikanmu, ingin menemuimu. Sehari saja tidak berbincang denganmu meski sejenak rasanya hariku menjadi tidak lengkap.
Bolehkah aku menyatakan aku suka padamu?
Retta menemukan secarik
kertas di mejanya, dengan wajah kebingungan ia membaca baris-barisnya tulisan
yang membuatnya tersipu malu. Wajah lugu tersipu malu terpancar hingga membuat
orang yang melihatnya langsung memandang heran.
“Napa muka lo tiba-tiba
merah gitu Ree?” tanya Nisa sembari lewar di depan kubikel Retta.
“Kagak ade ape-ape, biasa aja.” tegas Retta yang langsung berusaha menutupi raut wajah tersipunya.
“Kagak ade ape-ape, biasa aja.” tegas Retta yang langsung berusaha menutupi raut wajah tersipunya.
Setelah ia merasa tidak
ada lagi orang yang memperhatikan, ia kembali membaca secarik kertas. Ia sedang
membayangkan siapa gerangan yang meletakkan kertas ini di mejanya. Berkali-kali
ia membaca, tulisan pada kertas itu jelas bukan puisi, bukan pula sengaja,
bukan pula sekedar tulisan iseng tak bermakna. Atau mungkin kertas ini bukan
ditujukan untuknya. Mungkinkah sebuah ketidaksengajaan kertas ini tergeletak
begitu saja di atas meja. Akhirnya setelah isi kertas itu bermain-main di
benaknya ia memutuskan bahwa kertas ini bukan untuknya.
Ia kembalikan
konsentrasinya pada tumpukkan kertas dihadapannya. Ia berusaha keras
mengabaikan pikirannya dari secarik kertas tersebut. Pikirannya pun melayang,
“Andai kertas itu ditujukan kepadaku, pastinya orang tersebut romantis.”
“Tidak tahukah ia bahwa belum ada orang yang menyatakan perasaannya sesederhana dan segamblang ini”
“Andai pertanyaan itu untukku, aku bersedia untuk disukai.”
“Andai kertas itu ditujukan kepadaku, pastinya orang tersebut romantis.”
“Tidak tahukah ia bahwa belum ada orang yang menyatakan perasaannya sesederhana dan segamblang ini”
“Andai pertanyaan itu untukku, aku bersedia untuk disukai.”
****
Rivan tak bisa
berkonsentrasi kerja, pikirannya ,melayang ke kubikel yang berada di ujung
kantor ini. Rasanya sungguh jauh kubikel itu. Dia sibuk menduga-duga apakah
gadis berkerundung yang imut itu sudah membacanya? Dari tadi ia salah menjawab
pertanyaan atasannya, semua jawabannya tidak nyambung, masih syukur kerjaannya
tidak berantak.
Gadis berkerudung yang
belakangan ini menjadi pusat perhatian pikirannya. Awalnya tidak pernah ia
terpikir tentang gadis itu, baginya gadis itu hanyalah sebatas rekan kerja.
Tapi yang ia heran kenapa orang-orang sekantor menjodoh-jodohkan dia dengan
gadis itu. Mungkinkah gadis itu menyukainya.
Beberapa kali ia mencoba
untuk menghampiri, sekedar mencari tahu apakah gadis itu memiliki ketertarikkan
padanya, akan tetapi ia tidak menemukan tanda-tanda tersebut. Mungkin ia saja
yang merasa terlampau GeRe. Rasa penasarannya yang mendorongnya hingga ia
sampai saat ini kerap menghampiri. Sekedar pura-pura menanyakan pekerjaan,
sekedar pura-pura lewat lalu menyapa, bilamana ia beruntung ia bisa mengobrol
sedikit lebih lama 5 atau 10 menit cukup lama untuk dilakukan disela-sela
pekerjaan.
Tetapi buah penasaran itu
berkembang lebih dari yang ia harapkan, ada rasa yang kuat untuk
menghampirinya. Ada semangat baru untuk menjelang pekerjaan yang membosankan.
Ada yang kurang bila gadis itu tidak masuk kerja.
Akhirnya semalam Rivan
memutuskan untuk menuliskan sedikit perasaannya pada gadis itu, hanya untuk
mengetahui reaksinya. Sudah terlewat kuno di zaman yang serba teknologi ini
menyatakan perasaan melalui surat, bila secarik kertas itu dapat dikatakan
surat. Tetapi ia bingung hendak memulai dari mana, gadis itu terlalu cuek dan
sibuk dengan dirinya sendiri.
Rivan beranjak dari
kursinya, ia menghampir gadis itu, Retta. Ia harus mencari tahu reaksi Retta
setelah membaca secarik kertas yang tadi pagi ia tinggalkan diatas meja.
Beruntung tadi saat hendak meletakkan tidak ada siapa-siapa di sekitar kubikel
Retta, jadi ia bebas meletakkan kertas tersebut.
“Hey Mba, serius amat
kerjanya?” tanya Rivan mengejutkan Retta.
“Ah kagak, bukannya gua biasa kerja serius.”
“Bener-bener pegawai yang baik.”
“Hihihihi.” tawa renyah Retta membuncah dibenak Rivan.
“Ah kagak, bukannya gua biasa kerja serius.”
“Bener-bener pegawai yang baik.”
“Hihihihi.” tawa renyah Retta membuncah dibenak Rivan.
Matanya mengawasi meja
kerja Retta, mencari-cari secarik kertas yang ia letakkan. Ia tidak menemukan,
mungkinkah Retta sudah membacanya. Rivan bingung bagaimana menanyakan kertas
tersebut.
“Mba, lo liat ada kertas
ga disini tadi?” Rivan memberanikan diri bertanya.
“Kertas apaan Van?”
“Kertas kecil gitu deh, tapi ga sengaja ketinggalan waktu gua minjem pulpen dari meja lo.”
“Emang isinya apa?” Retta mulai deg-degan, apakah secarik kertas itu yang dicari Rivan. Apakah Rivan pemilik kertas tersebut.
“Puisi-puisi norak gitu deh.”
“Jeileb” mendadak hati Retta cenat cenut. Tiba-tiba lagu Sma*sh bernyanyi-nyanyi di otaknya.
“Kertas apaan Van?”
“Kertas kecil gitu deh, tapi ga sengaja ketinggalan waktu gua minjem pulpen dari meja lo.”
“Emang isinya apa?” Retta mulai deg-degan, apakah secarik kertas itu yang dicari Rivan. Apakah Rivan pemilik kertas tersebut.
“Puisi-puisi norak gitu deh.”
“Jeileb” mendadak hati Retta cenat cenut. Tiba-tiba lagu Sma*sh bernyanyi-nyanyi di otaknya.
Retta sibuk berpikir
apakah perlu ia berikan kertas itu dan mengatakan bahwa ia membaca. Kalau
kertas itu bukan untuknya sungguh malu ia tadi sudah merasa berbunga-bunga saat
membacanya. Kalau kertas itu dituju untuknya sungguh Tinto bukan orang yang ia
harapkan untuk menuliskan kata-kata sederhana itu.
“Yee si Mba malah bengong,
lihat ga?” kata Rivan membuyarkan lamunannya.
Akhirnya ia memutuskan
untuk mengembalikan kertas itu.
“Ga nyangka yah lo puitis
juga?”
“Masa sih segitu puitis? Lo dah baca dong?”
“Maaf yah gua baca tadi habisnya gua ga tahu itu kertas punya siapa.” kata Retta sembari mengambil kertas tersebut dari tasnya.
“Masa sih segitu puitis? Lo dah baca dong?”
“Maaf yah gua baca tadi habisnya gua ga tahu itu kertas punya siapa.” kata Retta sembari mengambil kertas tersebut dari tasnya.
“Retta meletakkan kertas
itu kedalam tas, berarti dia suka dengan tulisan pada secarik kertas tersebut.”
“Nih, kertas lo.”
“Makasih yah, mau gua kasih ke orangnya. Tapi bagus ga tulisannya.”
“Bagus kok.”
“Makasih yah, mau gua kasih ke orangnya. Tapi bagus ga tulisannya.”
“Bagus kok.”
Dengan mantap dan penuh
keyakinan serta keberanian yang berlipat ganda, Rivan menyodorkan kertas itu
kembali ke Retta.
“Ini buat lo aja Ree.” Ia
lupakan embel-embel “Mba” yang biasa ia gunakan untuk menyapa Retta yang memang
lebih tua sedikit darinya.
“Loh kok dikasih lagi ke gua?” Retta jadi bingung. Padahal ia telah berusaha keras menutupi kekecewaannya karena kertas tersebut diambil oleh pemiliknya dan bukan dituju untuknya.
“Emang buat lo kok, gua cuman mau memastikan aja lo dah nerima dan baca.”
“Loh kok dikasih lagi ke gua?” Retta jadi bingung. Padahal ia telah berusaha keras menutupi kekecewaannya karena kertas tersebut diambil oleh pemiliknya dan bukan dituju untuknya.
“Emang buat lo kok, gua cuman mau memastikan aja lo dah nerima dan baca.”
Retta diam seribu bahasa,
entah apa yang akan ia utarakan. Tiba-tiba wajahnya memanas dan ada getaran
aneh yang menghampiri hatinya.
“Udah jangan bengong aja,
gua tunggu balasannya.” Kata Rivan sembari berlalu meninggalkan Retta yang
hanya terbengong-bengong.
*********************************************************************************
Langganan:
Postingan (Atom)
