Rabu, 06 Februari 2013

Tugasnya menggonggong, Kafilah berlalu -,-



Meskipun tumpukan tugas masih bertengger rapi di atas meja, tetep ajah gue enak-enakan ngetik postingan baru di post. Padahal udah ketauan dari ujung kaki sampe ujung kepala, gak bakal ada orang yang mau baca atau sekedar silahturami ke blog gue. Menyedihkan, memang.

Lari dari tumpukan tugas yang menyita waktu untuk bermain adalah kebiasaan gue. Kebiasaan yang sangat tidak patut dicontoh dan parahnya, malah gue jadikan budaya.
Tugas menggonggong, kafilah berlalu. Itu merupakan peribahasa yang sengaja gue pleset-plesetkan. Yang artinya, meskipun ada tugas yang terus menerus menggonggong di otak kita, minta untuk kita kerjakan, tetapi yang namanya bermain apa lagi ol dan ngetik postingan baru di blog, yah tetep, HARUS, lanjuuuut teruuuusss!
Hahaha.
Oke, bagi bapak-bapak atau ibu-ibu (yang mungkin baca postingan ini di blog saya), mungkin akan tercengang, kaget, dan bahkan syok (maaf jika terlalu lebay) melihat postingan saya kali ini yang sangat tidak berperi-ke-pelajar-an. Tapi, yah, beginilah saya adanya. Seorang murid pemalas yang selalu menelantarkan tugas dan menjadikan tugas nomor dua sementara bermain nomor SATU! #plak
This’s me and no one person could change me, except my own~


Deadline. deadline, dan deadline.
Apa sih sebenarnya deadline itu?
Deadline. Terdiri dari gabungan 2 kata dijadiin 1 kata, yaitu dead dan line.
Dead berarti mati. Sementara line berarti garis. Jadi.. Deadline itu garis mati. Garis mati? LOL
Terus kenapa banyak orang ketakutan dan stress gara-gara deadline yang berarti garis mati termasuk gue? Ah, gue pusing sama apa yang dibahas sama gue di post ini. Deadline bikin gue gila. Tugas-tugas gue semua udah sampai pada titik deadline dan sampai saat ini belom ada satupun yang selesai.
Gue jadi curiga jangan-jangan deadline itu sesosok monster yang menyebarkan virus bernama namanya, deadline, kepada orang-orang stress yang akan tugas-tugasnya karena belom selesai-selesai. Dan virus deadline itu menghipnotis dan memanupulasi orang-orang stress tersebut dengan kata-kata deadline sehingga populasi orang gila di dunia ini semakin bertambah.
Atau jangan-jangan deadline itu seorang putra tertukar yang sering nongkrong di perempatan sebelah yang tiap hari kerjaannya nyanyi-nyanyi gak jelas dan nyolek-nyolek pantat mas-mas yang lewat di depan matanya? Oh-em-ji mengerikan. Dan sepertinya ada yang salah sama otak gue sehingga gue sampai berpikiran dan berkhayal kayak gitu.